Kamis, Oktober 28, 2021

Proses Terbentuknya Tulang pada Manusia

Salah satu bagian penting pada tubuh yang memiliki peran sebagai pembentuk kerangka adalah tulang. Proses terbentuknya tulang pada mahluk hidup dimulai saat berada dalam kandungan. Biasanya kerangka tulang mulai terbentuk pada janin di beberapa minggu pertama setelah proses pembuahan berhasil dilakukan.

Proses terbentuknya tulang tersebut akan terus berkembang bahkan setelah bayi lahir hingga usia dewasa

Kemudian pada usia kandungan yang menginjak akhir minggu ke delapan, pola kerangka terbentuk dalam tulang rawan dan membran jaringan ikat. Pada tahap inilah proses terbentuknya tulang atau osifikasi dimulai.

Proses terbentuknya tulang tersebut akan terus berkembang bahkan setelah bayi lahir hingga usia dewasa. Bukan hanya itu, proses terbentuknya tulang secara otomatis juga akan berlangsung ketika seseorang mengalami kondisi patah tulang. 

Hal ini sudah menjadi respon tubuh yang akan memperbaiki diri secara mandiri jika mengalami kerusakan. Meskipun terkadang perlu memerlukan bantuan medis untuk mempercepat penyembuhan atau perbaikan.

Proses Terbentuknya Tulang

Lalu seperti apa proses terbentuknya tulang pada mahluk hidup. Berikut ini beberapa tahapan dalam proses terbentuknya tulang pada manusia yang perlu diketahui.

Pada dasarnya proses terbentuknya tulang atau disebut juga dengan osifikasi mempunyai dua jenis yaitu intramembran dan endokondral. Proses terbentuknya tulang baik pada intramembran maupun endokondral mempunyai karakteristik tersendiri.

Tulang Intramembran

Proses terbentuknya tulang yang pertama adalah intramembran. Pada tahap ini, terbentuknya tulang yang terjadi melibatkan pergantian membran jaringan ikat. Biasanya tulang intramembran yang terbentuk berupa bagian tertentu pada tulang tengkorak serta beberapa tulang tidak beraturan lain.
Baca juga:
Pada proses terbentuknya tulang intramembran, osteoblas atau sel pembentuk tulang bermigrasi ke membran dan menyimpan matriks tulang di sekitarnya. Pada osteoblas yang dikelilingi oleh matriks, maka terbentuk osteosit, atau sel tulang dewasa. Osteoblas dan osteosit berperan penting dalam pertumbuhan, pengembangan, dan remodeling tulang.

Tulang Endokondral

Proses terbentuknya tulang selanjutnya adalah endokondral. Berbeda dengan intramembran yang melibatkan membrane jaringan ikat, pada proses terbentuknya tulang endokondral melibatkan tulang rawan hialin yang diganti dengan jaringan tulang. Dapat dikatakan, sebagian besar tulang kerangka dibentuk melalui cara ini.

Setelah proses pembuahan, dan janin sudah memasuki bulan ketiga, di tahap inilah perikondrium atau jaringan ikat padat mulai mengelilingi tulang rawan. Pada saat yang bersamaan jaringan ikat padat juga disertai dengan pembuluh darah dan osteoblas atau sel pembentuk tulang. Kemudian osteoblas akan membentuk kerah tulang di sekitar diafisis.

Selanjutnya osteoblas menembus tulang rawan yang hancur dan menggantinya dengan tulang sepon. Pada saat inilah pusat terbentuknya tulang primer dimulai. Proses ini berlanjut dari pusat ke ujung tulang. Berikutnya terjadi proses osteoklas, di mana tulang baru dipecah untuk membuka rongga meduler. Tulang rawan pada epifisis akan terus berkembang bertambah panjang.

Perkembangan Tulang

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pada tahap endokondral, tulang rawan yang terletak pada epifisis akan terus bertambah panjang. Proses perkembangan tulang ini akan berlangsung mulai dari kanak-kanak dan remaja, hingga pertumbuhan tulang rawan melambat dan berhenti dengan sendirinya.

Kondisi berhentinya pertumbuhan tulang rawan ini biasanya terjadi saat seseorang memasuki usia 20 tahun. Pada masa ini, lempeng epifisis akan benar-benar mengeras sehingga hanya menyisakan garis epifisis yang tipis dan tidak bisa lagi tumbuh panjang. 

Selain faktor usia, pertumbuhan dan perkembangan tulang juga dipengaruhi oleh hormon dari kelenjar hipofisis anterior dan homon seks dari ovarium dan testis. Meskipun pertumbuhan tulang berhenti, namun ketebalan atau diameter tulang akan terus berkembang. Hal ini tidak lain merupakan respon dari peningkatan aktivitas otot yang dilakukan. 
Baca juga:
Pada kondisi ini, sel pembentuk tulang di periosteum akan membentuk tulang padat di sekitar permukaan tulang luar. Di sisi lain, osteoklas di endosteum memcah tulang pada permukaan tulang internal, tepatnya di sekitar rongga moduler.

Kedua hal inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatkan diameter tulang. Pada saat yang bersamaan kedua proses tersebut juga menjaga agar tulang tidak terlalu berat dan besar.

Kesimpulan

Itulah beberapa tahap dalam proses terbentuknya tulang atau dalam istilah medis disebut osifikasi. Proses terbentuknya tulang ini secara umum berlangsung pada setiap janin yang merupakan hasil pembuahan.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa tulang akan terus tumbuh dan berkembang dari bayi hingga masa awal dewasa yaitu usia 20 tahun. Pada usia ini biasanya pertumbuhan tulang akan berhenti, kecuali pertumbuhan ketebalan atau diameter tulang. Selain itu, tulang juga masih akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya saat terjadi kerusakan, seperti patah tulang.

bm

Seorang blogger amatir yang suka berbagi cerita, informasi dan ilmu pengetahuan melalui tulisan di blog.

Posting Komentar

Mohon untuk memberikan komentar dengan bahasa yang sopan dan sesuai dengan topik yang dibahas, tidak memasang link hidup serta tidak meninggalkan spam...!!!

Terimakasih banyak atas perhatiannya...

avatar
Admin Kang Syahri Online
Selamat datang di Blog Kang Syahri
Silakan kirimkan pesan untuk bekerjasama dengan kami!
Chat with WhatsApp