03 January 2018

Mengapa Umar bin Abdul Aziz Sering Memadamkan Lampu ?

Mengapa Umar bin Abdul Aziz Sering Memadamkan Lampu ?

Pada suatu malam, di ruang kerja di kantor Gubernur Hejaz, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tampak sibuk dengan pekerjaan ketatanegaraan. Tiba-tiba sang Khalifah dikejutkan suara ketukan agak keras di pintu.

"Siapa?" tanya khalifah
"Saya, Tuan. Pelayan Tuan"
jawab orang yang mengetuk pintu.
"Tunggu sebentar, Abid," jawabnya. Terdengar suara tiupan keras,
lalu khalifah pun membuka pintu. Kamar kerjanya tampak gelap gulita.

Rupanya sang khalifah telah memadamkan lampu.
"Silahkan masuk, Abid. Saya sedang sibuk malam ini,"
katanya singkat.
Sang pelayan tidak berani masuk, takut terantuk meja.
"Ini kopi kesukaan Tuanku," katanya.

Umar bin Abdul Aziz Sering Memadamkan Lampu ?

Dalam hati ia (Abid) bertanya-tanya, "Mengapa Tuan selalu memadamkan lampu ketika aku masuk? Akan kutanyakan kepada Permaisuri."
"Terima kasih, Abid. Letakkan saja di meja dekat pintu, nanti kuambil sendiri," ucap Umar bin Abdul Aziz.
"Baik, Tuan. Nyonya berpesan, makan malam sudah siap," kata sang pelayan.
"Katakan kepada Nyonya, setengah jam lagi aku selesai."
"Baik, Tuan."
Sang pelayan meninggalkan ruang khalifah yang gelap gulita. Tak terlihat apapun disana.

Kebiasaan sang khalifah yang berulang kali memadamkan lampu mengundang keingintahuan sang pelayan.
"Jangan-jangan Tuanku melakukan pekerjaan yang dilarang agama dan beliau mematikan lampu supaya orang lain tidak tahu," pikirnya.
Malam itu juga sang pelayan menanyakan kebiasaan aneh khalifah kepada permaisuri.
"Aku pun tidak tahu, Abid. Coba nanti kutanyakan," jawab permaisuri.
Seusai makan malam, permaisuri bertanya kepada suaminya,
"Suamiku, mengapa engkau selalu memadamkan lampu setiap kali Abid memasuki ruang kerja?"
"Oo.... Soal itu," kata khalifah sambil tersenyum,

Umar bin Abdul Aziz

"Istriku, kau 'kan tahu, minyak dari lampu dikamar kerja itu dibeli dengan uang negara. Karena pembicaraanku dengan Abid adalah urusan pribadi, sudah sepantasnya lampu itu kupadamkan."

"Pengaturan negara harus dimulai dari pengaturan keluarga. Jika kita masih mengambil uang negara, bagaimana kita bisa menghapus tindak korupsi? Aku harus bisa meyakinkan rakyat bahwa para pegawai negara tidak melakukan pungutan pajak yang berlebih," katanya.
"Agama islam memerintahkan kita berlaku adil terhadap sesama. Keadilan harus dimulai dari sini, diri sendiri. Hubungan ayah, ibu dan anak pun harus didasarkan pada keadilan. Ingatlah akan hal itu," ujarnya lagi.

"Benar, suamiku. Aku mengerti sekarang. Harta dan makanan haram bisa menjadi penghalang terkabulnya do'a kita," jawab permaisuri dengan wajah berseri.
"Rasulullah adalah orang yang sederhana. Sungguh, ia adalah pemimpin yang tidak pernah makan kenyang atau tidur nyenyak karena selalu memikirkan penderitaan rakyat," lanjut Umar bin Abdul Aziz.

Begitu bijak dan adilnya Umar bin Abdul Aziz ! Ia adalah keturunan khalifah Umar bin Khattab. Ayahnya, Abdul Aziz, menikah dengan Laila, cucu Umar bin Khattab. Pendidikan yang diterimanya dari para ulama besar di Madinah membuatnya menjadi khalifah berakhlak baik.

Dalam hal kejujuran, keadilan dan kesederhanaan, Umar bin Abdul Aziz benar-benar mewarisi sifat Umar bin Khattab. Kerinduan kaum Muslim akan Pemerintahan yang adil bisa terwujud berkat kepemimpinannya.

Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, walaupun berjalan hanya sekitar dua setengah tahun, patut diteladani. Terbukti bahwa pemimpin yang adil dan bijaksana seperti beliau bisa membawa rakyatnya menuju kesejahteraan.
Sebaliknya, pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri pasti mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan, sampai-sampai rakyatnya mengalami perpecahan.

Setiap hari kita mendengar ungkapan :
"Berantas korupsi, penjarakan koruptor!" 
korupsi sama dengan mencuri, tindakan memakan harta yang bukan hak kita. Allah sangat membenci tindakan tersebut, begitu juga dengan pelakunya. Nah, kita tentunya tidak mau dimurkai Allah, bukan?

Yuk, patuhi hukum Allah! Mari kita mulai dari diri sendiri.

Saya hanyalah seorang blogger amatir yang hanya bisa sedikit menulis, meliput, meng-edukasi dan memberikan informasi melalui internet dan teknologi dengan misi mewujudkan masyarakat yang memiliki budaya membaca melalui media internet

This Is The Oldest Page

Mohon untuk memberikan komentar dengan bahasa yang sopan, tidak menempelkan link hidup serta tidak meninggalkan spam disini...!!!

Terimakasih banyak atas perhatiannya...
EmoticonEmoticon