29 September 2018

Apalah Arti Sebuah Nama?

Apalah Arti Sebuah Nama?

“What’s in a name? That which we call arose by any other name would smell as sweet.” (Apalah artinya sebuah nama? Kalaupun memberi nama lain pada bunga Mawar, tetap saja harum baunya) ---WilliamShakespeare---

Penulisan ungkapan diatas kurang berkenan, bagaimanapun nama merupakan hal penting. Tidak bisa dibayangkan, betapa sulitnya jika di dunia ini tanpa identitas. Perihal identitas, Allah SWT telah mengajarkan kepada Nabi Adam AS mengenal aneka macam nama benda ketika berada di surga (QS 2:31-32).

Sementara dalam memberikan nama anak, ada pedoman yang dimuat dalam Al-Hadits. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya ada tiga kewajiban orang tua untuk anaknya yaitu memberi nama yang baik, memberi pendidikan dan menikahkan ketika dewasa”. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulallah SAW pernah mengubah nama-nama yang kurang baik, seperti : nama “Ashiyah” (bermakna suka maksiat) diganti dengan nama “Jamilah” (berarti cantik). Begitu pula nama “Harb” (perang) diganti dengan nama “Salman” (damai), “Syi’bul Dhalalah” (jalan sesat) dengan nama “Banu Rusydi” (petunjuk).

Untuk memberi nama anak tidak asal nama saja, sebab pada nama anak melekat do’a orang tua bagi anaknya. Berdasarkan pedoman Islam, nama anak yang baik dapat mencontoh kepada nama-nama Allah dalam “Asma’ul Husna” yang terdiri dari 99 nama, kemudian nama Baginda Rasulallah Muhammad SAW, para Nabi dan Sahabat. Nama-nama anak sedapat mungkin merupakan nama yang baik. Jangan sampai terjebak asal bahasa Arab saja. Kata-kata “dolimun”, “kafirun” atau “parji” meskipun berasal dari Al-Qur’an tetapi tidak cocok untuk dijadikan nama anak.

Apalah Arti Sebuah Nama?

Dalam penggunaan nama-nama orang sunda, ada nama yang cocok digunakan untuk kaum laki-laki saja atau wanita saja, seperti : Maman, Wawan, Yana, Asep dsb (untuk laki-laki) dan Mimin, Wiwin, Yeni, Euis dsb (wanita). Dalam bahasa Arab pun demikian, Nama “Hasan” (laki-laki) diubah menjadi “Hasanah” (wanita); “Jamal” (laki-laki) – “Jamilah” (wanita) atau “Jaka” (laki-laki) – Zakiah/Azkiah (wanita). Adapula nama yang bisa digunakan lintas gendre, yaitu Ade, Dede, Cucu, Yani, Dani, Ayi, dsb (laki-laki/wanita).
David Reeve, seorang guru besar di Department of Chinese and Indonesia, School of Modern Language, University of New South Wales, Sydney, Australia dalam seminar internasional II di kampus UNSUR (Universitas Surakencana) Cianjur menginventarisir nama-nama tradisional pada setiap suku bangsa di Indonesia. Berdasarkan penelitiannya, nama-nama suku Bali biasa diurutkan mulai dari putra sulung menggunakan nama Made, Kadek (anak kedua); Nyoman, Komang (anak ketiga) dan Ketut (anak keempat). Anak kelima kembali lagi pada nomor satu, begitupula anak ke sembilan. Jika berdasarkan kasta, maka nama-nama itu dapat dibedakan berdasarkan asal kastanya, seperti : Ida Bagus (Brahmana), Cokorda, Anak Agung (Satria), Gusti (Wesia), I atau Ni (Sudra).

Nama-nama dikalangan suku Batak populer adalah nama belakangnya sebagai nama keluarga yang disebut marga. Nama marga suku Batak terkenal: Hutabarat, Hutagalung, Hutapea, Silitonga, Simanungkalit, Tampubolon dan sebagainya, sedangkan nama yang umum dipakai didepan adalah Poltak, Butet atau Polan. Di zaman Orde Baru, masalah nama pernah menjadi masalah politik. Nama-nama etnis Tionghoa diwaktu itu dengan alasan politis banyak di-indonesiakan seperti: Liem menjadi Salim atau Halim, Gunawan dari (Goei), Kuncoro (Kun), Ongkowijoyo (Ong, Oei) atau Tanuwijaya (Tan).

Prof. Reeve mengelompokan nama-nama etnis Jawa yang memiliki format khusus seperti: Su…(o), seperti: Sukarno, Sutrisno, Sudomo, Surono, Sugiharto. Pada masyarakat jawa dikenal dengan tradisi mengurutkan nama-nama anaknya seperti: (1) Eko (anak pertama), contohnya Ekowati, Eko Sumarwan; (2) Dwi (anak kedua) contohnya: Dwijo Suranto, Dwi Hatmoko; (3) Tri (anak ketiga), contohnya: Triwibowo, Triningsih; (4) Catur (anak keempat): Catur Atmojo; (5) Panca (anak kelima): Poncosutowo, Poncorini; (6) Sad (anak keenam): Sadirin, Sadmoko; (7) Sapto (anak ketujuh): Sapto Rahadjo, Sapto Hudoyo dan sebagainya.

Kelompok lainnya menurut Reeve adalah nam-nama yang menggunakan hitungan hari seperti : Legiman (Legi), Poniman (Pon), Wagimin (Wage), Tukliwon (Kliwon). Ada juga yang mengadopsi nama-nama tokoh pewayangan seperti: Herjono, Bambang Permadi (tokoh Arjuno/Permadi), Bimo Prasetyo (Bimo), Ari Sudewo (Sudewo) dan sebagainya.
Di era globalisasi, nama-nama global menurut penulis bakal mengisi dan menggantikan nama-nama tradisional di masyarakat. Momentum terjadi di kancah nasional atau dunia turut mempengaruhi perubahan nama-nama di masyarakat. Panggung perhelatan Piala Dunia atau Piala Eropa contohnya dapat mempengaruhi keluarga pecinta sepak bola memberi nama anak-anaknya sesuai dengan bintang lapangan pujaannya. Pada Piala Eropa 2012 lalu, nama-nama bintang lapangan mungkin saja diadopsi oleh penggila sepak bola, seperti: Iker Casilas, Fernando Torres, David Villa (Spanyol), Gianluigi Buffon (Italia), Cristiano Ronaldo (Portugis), Lukas Podolski, Jeronimo Cacau (Jerman) atau Mark Van Bommel dan Wesley Sneidjer (Belanda).

Begitu pula nama-nama selebriti kesohor sangat mungkin diadopsi masyarakat, terutama oleh keluarga muda, seperti : Dude Herlino, Adam Jordan, Ariel, Julia Perez, Luna Maya, Naysila dan sebagainya. Melihat fenomena ini, janganlah heran jika cucu laki-laki Nini Utih yang tinggal di “mumunggang” gunung diberi nama Mesut Ozil dan cucu perempuannya Manohara karena ayahnya fans berat tim Panser dan ibunya pengagum artis Manohara.
Pada paparan terakhir, penulis menyoroti penggunaan dwilingga (pengulangan) pada nama-nama digunakan di masyarakat Sunda. Penggunaan dwilingga kata depan merupakan hal umum, seperti: Maman Suparman, Idah Rosyidah, Yati Rohayati, Yuyun Yunengsih, Dani Ramdani atau Yani Mulyani. Meskipun sudah menjadi tradisi dalam adat Sunda, penulis tidak merekomendasikan nama-nama Iwa, Oman, Anda atau Ali kemudian didwilinggakan menjadi: Iwa Sugriwa, Oman Hanoman, Anda Anggada atau Ali Subali. Mengapa?

Berdasarkan cerita Ramayana yang dilakonkan oleh Ki Dalang, nama Sugriwa, Hanoman, Anggada atau Subali bukanlah nama tokoh manusia tampan gagah perkasa, tetapi merupakan golongan “wanara”. Atau supaya gagah, gaul dan cantik, nama anak laki-laki Anda diberi nama “Raflesia Arnoldi” dan nama anak perempuan Anda diberi nama “Hernia”. Kalau paham makna nama “Raflesia Arnoldi” merupakan sejenis bunga yang mengeluarkan bau bangkai dan suka dikerubuti lalat, sedangkan nama “Hernia” yaitu sejenis penyakit kelamin yang sering diderita oleh kaum pria, pasti Anda tidak akan tergoda menggunakan nama-nama yang selintas menarik itu, bukan?

Jadi jelaslah bahwa nama memiliki makna yang sangat penting. Bagi kaum Muslimin, selain sebagai identitas diri, nama anak seyogianya indah, baik dan berisi untaian do’a. ungkapan yang dikemukakan oleh Shakespeare dalam kasus ini tentu tidaklah cocok.

Penulis, Dadan Wahyudin (Mahasiswa PBSI S2)
Univesitas Suryakencana Cianjur

Dikutip dari : Majalah Bulanan Bhineka Karya Winaya (No.294 Mei 2013)

Baca Juga :

This Is The Newest Post

Mohon untuk memberikan komentar dengan bahasa yang sopan, tidak menempelkan link hidup serta tidak meninggalkan spam disini...!!!

Terimakasih banyak atas perhatiannya...
EmoticonEmoticon