Showing posts with label Cerita Islami. Show all posts
Showing posts with label Cerita Islami. Show all posts

14 June 2018

Takbir Keliling, Tradisi Umat Islam Menyambut Lebaran

Takbir Keliling, Tradisi Umat Islam Menyambut Lebaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan kata ‘Lebaran’ adalah sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Lebaran juga merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, hari yang penuh suka cita dimana kaum muslimin merayakan hari raya Idul Fitri setelah berpuasa satu bulan penuh. 

Banyak tradisi yang kita jumpai pada masyarakat kita untuk menyambut Lebaran atau perayaan hari raya Idul Fitri, baik sebelum Idul Fitri atau sesudahnya yaitu antara lain dengan takbir keliling untuk menyambut lebaran. Takbir adalah seruan atau ucapan untuk meng-Agungkan Kebesaran Allah Swt dengan mengucap "Allahu Akbar" (Allah Maha besar). Takbir dikumandangkan pada malam hari untuk menyambut datangnya Idul Fitri dan Idul Adha.

Takbir Keliling, Tradisi Umat Islam Menyambut Lebaran
Takbir keliling menyambut lebaran

Takbir keliling sebagai bentuk suka cita umat islam dalam menyambut lebaran

Takbir keliling biasa dilakukan dengan pawai di jalan yang diikuti oleh orang dewasa hingga anak-anak. Mereka turut antusias mengikuti kegiatan yang hanya dilakukan dua kali dalam setahun tersebut. Dengan menggunakan pengeras suara, obor, drumband, kentongan, bedug dan alat musik lainnya sebagai pelengkap. Bedug yang ditabuh biasanya diletakkan di atas panggung atau mobil dengan dihias bermacam-macam lampu agar telihat menarik dan unik sambil mengumandangkan kalimat takbir. Namun tidak jarang, takbir keliling juga dihiasi dengan menyalakan berbagai macam petasan dan kembang api yang menambah semaraknya malam lebaran. Suasana malam lebaran pun makin meriah dan menyenangkan. 
Takbir keliling ini biasanya dilakukan ba'da shalat magrib atau tepat saat malam 1 Syawal. Para peserta takbir keliling berjalan beriringan membentuk barisan yang panjang sambil berjalan kaki dan diiringi kendaraan bermotor mengitari pelosok hingga ke ujung kampung dan kembali ke lokasi dimana takbir keliling mulai bergerak.

Tradisi takbir keliling ini masih tetap lestari hingga kini dan semestinya harus terus tetap dipertahankan. Namun tentunya harus sesuai dengan koridor yang berlaku. Jangan sampai tradisi takbir keliling ini malah menjadi ajang keributan bahkan sampai berbuat anarkis. Karena ini adalah salah satu bentuk suka cita umat islam atas kemenangan setelah berpuasa satu bulan penuh di bulan ramadhan dan juga sebagai ajang mempererat toleransi antar warga masyarakat. 

12 June 2018

Hikmah Tadarus Al-Qur'an Di Bulan Ramadhan

Hikmah Tadarus Al-Qur'an Di Bulan Ramadhan

Pada artikel kali ini saya akan membagikan sesuatu hal mengenai Hikmah tadarus Al-Qur'an di bulan ramadhan. Namun sebelum melanjutkan pada pokok masalah diatas, ada baiknya anda mengetahui terlebih dahulu tentang asal kata tadarus dan pengertiannya. Tadarus berasal dari kata dalam bahasa Arab, yaitu tadaarasa. Bentuk aslinya darasa. Darasal kitab artinya membaca berulang-ulang untuk memahami isinya. Padanan kata dalam bahasa Indonesia adalah kata mengkaji. Maka, tadarus Al-Qur'an adalah mengkaji Al-Qur'an secara cermat dan dilakukan bersama-sama, tidak sendirian. Setidaknya ini menyiratkan bahwa dalam kelompok pengkajian itu ada beberapa orang yang dianggap ahlinya atau sebagai tutor.

Berdasarkan pengertian diatas, tadarus bukan hanya merupakan kegiatan membaca Al-Qur'an, tetapi tadarus Al-Qur'an adalah juga mengkaji makna Al-Qur'an untuk memahami maknanya. Di dalam masyarakat kita, tadarus Al-Qur'an diartikan sebagai kegiatan membaca Al-Qur'an secara bersama-sama di masjid atau mushalla pada bulan ramadhan. Satu orang membaca dan yang lain menyimak dan memperbaiki kesalahan dalam membaca.

Hikmah Tadarus Al-Qur'an Di Bulan Ramadhan
Al-Qur'anul Karim


Hukum Tadarus Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Hukum tadarus Al-Qur'an adalah sunah. Pada bulan ramadhan, tadarus Al-Qur'an mempunyai pahala yang berlipat ganda karena pada bulan tersebut seluruh amal kebaikan dilipat gandakan oleh Allah Swt. Padahal, satu huruf dalam Al-Qur'an dilipat gandakan 10 kali lipat dari hari biasa, namun di bulan ramadhan, satu huruf dalam Al-Qur'an akan mendapat 100 kebaikan. Hal ini seperti disabdakan oleh Rasulallah Saw.

َمَنْقَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf". (H.R. Turmuzi)

Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Rasulullah Saw melalui perantara Malaikat Jibril as yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas yang membacanya adalah ibadah. Ia adalah kitab suci kaum muslimin yang bersumber dari Allah Swt. Ia adalah landasan hukum Islam dan pedoman hidup bagi manusia. Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat istimewa lagi paripurna yang membacanya adalah ibadah yang sangat mulia dan mempunyai hikmah yang luar biasa.

Hikmah Tadarus Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Tadarus Al-Quran banyak sekali hikmahnya, antara lain:
  1. Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber petunjuk bagi umat manusia. Untuk mendapatkan petunjuk itu, tidak ada jalan lain kecuali membacanya
  2. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Swt
  3. Memperbaiki bacaan Al-Qur'an
  4. Hati merasa tenang denga membaca Al-Qur'an
  5. Membaca Al-Qur'an akan mendatangkan kebaikan
  6. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang membaca al-Qur`an
  7. Membaca Al Qur'an akan mendatangkan syafa’at
Masih banyak lagi hikmah tadarus Al-Qur'an terutama di bulan ramadhan. Dan pada tulisan kali ini hanya menyebutkan sebagian kecil hikmah dari membaca Al-Qur'an.

10 June 2018

Ancaman Allah Pada Orang Yang Tidak Membayar Zakat

Ancaman Allah Pada Orang Yang Tidak Membayar Zakat

Zakat merupakan kewajiban agama dan yang termasuk salah satu rukun Islam yang lima. Oleh karena itu, zakat termasuk dharuriyat (perkara-perkara pasti) dalam agama Islam. Maka barangsiapa mengingkari kewajiban zakat, ia menjadi kafir dan keluar dari agama Islam. Kecuali jika orang tersebut baru masuk Islam, sehingga kebodohannya terhadap hukum-hukum Islam termaafkan. Atau orang itu tinggal di daerah yang jauh dari ulama. 

Tentunya anda masih ingat dengan kisah khalifah Abu Bakar, yang dikisahkan bahwa pada saat awal menjadi khalifah, salah satu prioritas Khalifah Abu Bakar adalah memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Hal ini dikarenakan, orang yang tidak mau membayar zakat sangat berbahaya dan diancam siksa yang sangat pedih dari Allah Swt.

Siapa sajakah orang yang mendapat ancaman dari Allah tersebut?

Dalil dari Al-Qur'an, As Sunnah maupun ijma' kaum muslimin telah nyata menunjukkan bahwa zakat merupakan perkara wajib yang jika seseorang mengingkarinya bisa terjerumus ke dalam jurang kekufuran (murtad). Dia harus bertobat jika ingin kembali diakui lagi sebagai seorang muslim. Jika ia enggan bertobat maka boleh untuk diperangi. Jika kita telah mengetahui betapa besarnya kewajiban berzakat, maka sesungguhnya agama Islam memberikan hukuman tegas terhadap orang yang meninggalkan kewajiban zakat ini. Orang Islam yang telah wajib berzakat, tetapi tidak menunaikannya dan tidak meyakini kewajiban zakat, maka dia murtad dari agama Islam dan menjadi orang kafir. Adapun jika masih meyakini kewajibannya, maka dia telah berbuat dosa besar, namun tidak kafir. 

Orang yang tidak berzakat akan disiksa sampai diputuskan hukuman pada hari kiamat, kemudian ia akan melihat jalannya menuju surga atau neraka. Jika ia telah kafir, maka pasti tidak akan menuju surga. Selain itu penguasa kaum muslimin dapat mengambil secara paksa harta zakat orang yang tidak membayarnya dan separuh hartanya sebagai hukuman terhadap perbuatannya.

Seperti apakah siksa yang didapatkan jika tidak membayar zakat?

Mereka yang bakhil atau membayar namun tidak sesuai kewajibannya maka ia telah berbuat zalim dan akan berhadapan dengan ancaman Allah yang sangat pedih. Sesuai dengan Firman Allah Swt, yang berbunyi : 

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرُُّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ  مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَللهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Artinya: 
"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Q.S: Ali 'Imran: 180).

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda "Barang siapa yang diberi oleh Allah harta kemudian ia tidak membayar zakatnya maka akan dijelmakan harta itu pada hari kiamat dalam bentuk ular yang kedua kelopak matanya menonjol. Ular itu melilitnya kemudian menggigit dengan dua rahangnya sambil berkata: "Aku hartamu aku simpananmu" (H.R. Al-Bukhari).

Seperti itulah akhir perjalanan harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya. Pemiliknya menyangka, bahwa hartanya akan mengekalkannya atau bermanfaat baginya. Namun ternyata akan menjadi sarana untuk menyiksanya.

Semoga semua kaum muslimin menyadari, bahwa harta merupakan barang titipan, yang harus mereka gunakan sebagaimana yang diatur oleh Pemilik-Nya yang kemudian sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita selalu berada di atas jalan-Nya.

Pemuda Indonesia Menjadi Imam Masjid Di Makah

Pemuda Indonesia Menjadi Imam Masjid Di Makah

Baru-baru ini ramai beredar lewat aplikasi WhatsApp yaitu tentang pemuda Indonesia yang disebut-sebut menjadi imam Masjidil Haram di Makah, Arab Saudi. Sebenarnya, pemuda yang bernama Ashal Yantu bin Jumri Bakri al-Banjari itu telah lolos mengikuti kegiatan standar uji kompetensi.

Kegiatan yang diikuti Ashal cukup bergengsi dan mempunyai standar luar biasa tinggi karena banyak melalui tahapan serta salah satu pengujinya berasal dari imam Masjidil Haram. Namun dia bukanlah imam Masjidil Haram, melainkan menjadi imam di masjid Birrul Walidain di kawasan Zaidi, Makah. Namun jika melihat potensi yang dimiliki Ashal, bisa jadi suatu saat nanti menjadi imam Masjidil Haram.

Pemuda Indonesia Menjadi Imam Masjid Di Mekah
Ashal Yantu bin Jumri Bakri al-Banjari

Tentang Ashal Yantu bin Jumri Bakri al-Banjari

Sebagaimana diketahui, ada tiga orang yang pernah menjadi imam di masjid yang menjadi pusat ibadah umat Islam ini. Mereka diantaranya ialah Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, dan Syikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Ashal adalah anak angkat atau murid dari salah satu imam Masjidil Haram Syekh, yaitu Dr. Hasan Bukhori. Dia yang lahir di Arab Saudi, dan sudah hafal Al-Qur'an sejak usia 15 tahun kemudian mendapatkan bimbingan dari beberapa syekh di Mekah, dan karena suaranya merdu beberapa kali mendapatkan kesempatan tampil di haflah-haflah dan lomba-lomba.

Dia berasal dari komunitas suku Banjar yang bermukim di kawasan Zaidi, Makah, Arab Saudi. Meski demikian, Ashal masih berkewarganegaraan Indonesia. Karena komunitas Banjar itu sangat dikenal dan Komunitas Banjar ini memang sangat dihormati orang Makah. Seperti Syekh Arsyad al-Banjari, Syekh Nafis al-Banjari di Makah. Di Saudi, selain komunitas Banjar juga banyak komunitas suku lain dari Indonesia yang bermukim di sana. Beberapa di antaranya yakni Jawa (Al-Jawi), Banten (Al-Bantani), Mandailing (Al-Mandali), Padang (Al-Padangi), Bima (Al-Bima), dan lainnya. Banyak anak-anak komunitas Banjar yang lahir dan besar di sana. Hingga akhirnya mereka banyak yang menjadi imam masjid, pemberi fatwa (mufti), guru-guru, dan yang lainnya.

09 June 2018

Manfaat Membayar Zakat Bagi Umat Islam

Manfaat Membayar Zakat Bagi Umat Islam

Zakat diambil dari kata zakkaa, yuzakkii yang berarti membersihkan. Dalam hal ini, yang dibersihkan adalah harta benda. Menurut istilah, zakat adalah mengeluarkan sebagian harta atau bahan makanan pokok menurut ketentuan dan ukuran yang ditentukan oleh syariat Agama Islam.

Bagi umat Islam, zakat adalah kewajiban pribadi (fardu ain) dan termasuk rukun Islam yang ke tiga. Secara umum, zakat dibagi menjadi dua bagian, yaitu zakat harta kekayaan (zakat mal), yaitu sebagian harta yang dikeluarkan dari kekayaan yang dimiliki untuk membersihkannya. Dan zakat fitrah, yaitu sedekah wajib yang harus dikeluarkan oleh semua umat Islam yang dilakukan mulai awal bulan ramadhan hingga sebelum waktu pelaksanaan shalat Iedul Fitri.

Zakat Fitrah
Zakat berupa beras

Manfaat Zakat

Semua yang diperintahkan Allah Swt pasti ada manfaatnya. Begitu juga zakat. Zakat banyak sekali manfaatnya. Manfaat zakat dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain :

1. Manfaat dari segi agama.
  1. Menjalankan rukun Islam, 
  2. Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt,
  3. Mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan 
  4. Merupakan sarana penghapus dosa

2. Manfaat dari segi akhlak.
  1. Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran, dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat. 
  2. Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahmah (belas kasih) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya
  3. Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik berupa harta maupun raga bagi kaum muslimin akan melapangkan dada dan meluaskan jiwa. Sebab sudah pasti ia akan menjadi orang yang dicintai dan dihormati sesuai tingkat pengorbanannya.
  4. Di dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak

3. Manfaat dari segi sosial kemasyarakatan.
  1. Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia
  2. Memberikan dorongan kekuatan bagi kaum muslimin yang berjihad membela agama. Hal ini berhubungan dengan adanya kelompok penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi sabilillah
  3. Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosial, dendam, dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. 
  4. Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas berkahnya akan melimpah
  5. Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang, karena ketika harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil manfaat.

Pemuda Asal Indramayu Menjadi Imam Tarawih Di Masjid Negara Maroko

Pemuda Asal Indramayu Menjadi Imam Tarawih Di Masjid Negara Maroko

Kembali, pemuda asal Indramayu menorehkan prestasi yang membanggakan di dunia Internasional. Kalau pada bulan Februari 2018 kemarin, seorang Kader Nahdhahul Ulama (NU) dan sekaligus Pimpinan Pesantren Asy- Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat, Nasrulloh Afandi, berhasil meraih doktor dengan predikat tertinggi, Summa Cum Laude (Musarrif Jiddan) pada Rabu, 7 Februari 2018 di Fakultas Syariah Universitas al-Qurawiyin Maroko. 

Fadlu Nawawi, Pemuda Desa Kebanggaan Indramayu

Dan baru-baru ini, Fadlu Nawawi seorang pemuda yang berasal dari Desa Wanguk Blok Bunut Kidul, Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu menjadi Imam Tarawih di Masjid Negara Maroko.

Pemuda Asal Indramayu Menjadi Imam Tarawih Di Masjid Negara Maroko
Ahmad Zulky Fadlu (doc. Facebook)
Fadlu Nawawi adalah santri Alumni Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, lulusan tahun 2017, dibawah asuhan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA (Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama periode 2010-2020).

Suatu kebanggaan bagi warga Indramayu, karena memiliki anak muda yang hebat dan menunjukkan kemampuan atau prestasi di negara lain. semoga menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk menunjukkan kemampuannya tidak sebatas menjadi imam tetapi juga berprestasi dibidang lain yang bermanfaat bagi sesama manusia.

19 May 2018

Lukisan Terindah Al-Qur'an Tentang Masjid

Lukisan Terindah Al-Qur'an Tentang Masjid 

Masjid bukanlah bangunan suci yang terpisah dari hiruk pikuk kehidupan, bukan pula ruang pengasingan di mana orang lari dari tanggung jawab keluarga dan sosial. Bahkan bukan juga "goa pertapa" untuk orang yang seolah tenggelam dalam pemujaan Tuhan, tapi berpangku tangan terhadap keadaan. Bukan tempat pelarian dari kewajiban mencari materi dan memakmurkan dunia. 

Marilah kita perhatikan lukisan terindah Al-Qur'an berikut: 

"Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. (Siapa yang bertasbih? Yakni) orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual beli, atau aktivitas apa pun dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang." (QS an-Nur [24]: 36-37)

Lukisan Terindah Al-Qur'an Tentang Masjid
Lukisan Terindah Al-Qur'an Tentang Masjid 
Tapi masjid, seperti yang betapa indahnya dilukiskan Al-Qur'an adalah wilayah dan bangunan suci orang-orang yang sibuk bertebaran mencari karunia Allah Swt dan memakmurkan dunia. Masjid adalah "benteng terakhir" bagi mereka yang serius dan sibuk bekerja mengais rezeki. Juga sebagai pertahanan terakhir bagi pahlawan-pahlawan keluarga yang bersaing dan bertempur dalam persaingan bisnis. 

Namun, pada saat bersamaan mereka sadar betapa kesibukan mereka itu melalaikan dan menjerembabkan; betapa gemerlap dunia itu menyilaukan dan memenjarakan. Itulah sebabnya masjid, seperti dipotret Al-Qur'an, mendapat tempat teristimewa di hati mereka. Bagaimanapun sibuk dan larut dalam bisnis hingga tenggelam karena banjir keuntungan, namun pada akhirnya mereka menjawab kumandang adzan dengan rela dan penuh keikhlasan.

Sumber :
Buku "Dahsyatnya Kekuatan Masjid"
Oleh : Drs. H. R. Maulany, S.H
*) Ketua Umum Pemimpin Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Barat.

Masjid; Rumah Milik Allah

Masjid; Rumah Milik Allah 

Masjid secara harfiah berarti tempat sujud. Kata masjid sendiri terambil dari kata sujud, yang berarti tunduk, taat, dan patuh dengan penuh kehormatan dan takzim. Dengan begitu masjid artinya tempat untuk bersujud, yakni tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Allah. Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat umat Muslim. Namun, menurut M. Quraish Shihab, karena akar kata "masjid" mengandung makna tunduk dan patuh, maka hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata.

Nabi saw bersabda, "Allah jadikan persada bumi ini sebagai masjid bagiku (dan umatku) serta sarana pensucian (tayamum)." (HR Bukhari dan Muslim) 

Masjid; Rumah Milik Allah
Masjid; Rumah Milik Allah

Arti khusus dan arti luas bagi masjid

Dengan begitu, masjid mencakup dua arti, pertama arti teknis atau khusus yakni bangunan masjid; kedua arti luas dan hakiki yakni seluruh persada bumi yang dapat dijadikan "sajadah" untuk bersujud. Sajadah mukmin terbentang luas seluas bumi. Memang sujud sendiri dapat mencakup dua arti; pertama sujud di dalam shalat (yang baiknya dilakukan di masjid); kedua sujud dalam arti ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah sehingga mencakup seluruh aktivitas di mana pun yang ditujukan untuk kepatuhan kepada Allah. Bagi M. Quraish Shihab, misalnya, kerja keras, berdisiplin, dan hal-hal lainnya untuk kesuksesan sejalan dengan sunnatullah, tercakup pula ke dalam makna sujud. 

Jika kita renungkan, masjid fisik maupun masjid "persada bumi" sama-sama merupakan rumah Allah. Untuk masjid fisik, bangunan itu merupakan pusat ibadah atau penghambaan kepada Allah, dimana hamba-hamba Allah memuja dan memuji nama dan kebesaran Allah. Untuk persada bumi, seluruh bumi memang semuanya rumah atau milik Allah, dan juga merupakan ayat-ayat Allah. Seluruh semesta adalah ayat-ayat Allah di mana dia menampakkan kebesaran-Nya. Di mana pun Anda berada di belahan bumi ini bila mengingat dan memuji kebesaran Allah, ataupun sedang sibuk bekerja mencari karunia Allah, hakikatnya Anda sedang "bersujud" di persada bumi rumah Allah ini. Sebaliknya, bila Anda sedang shalat di dalam masjid sementara pikiran melayang jauh ke tempat-tempat lain, hakikatnya Anda tidak sedang di dalam masjid, 

Walaupun demikian, masjid sebagai bangunan fisik harus tetap diperlukan. Justru sebaliknya, memiliki peranan yang esensial. Hal ini karena bangunan yang dikhususkan untuk beribadah itu memiliki fungsi dan peran tersendiri yang tak dapat digantikan oleh sekedar hamparan persada bumi. Fungsi substansial masjid sebagaimana yang kita lihat adalah sebagai zona atau wilayah "teritorial khusus" yang Allah perintahkan untuk diagungkan, dijaga kebersihannya, kesuciannya, serta ketenangannya; dimana hamba-hamba Allah dapat dengan tenang mempersembahkan sembah sujud kepada-Nya.

Sumber :
Buku "Dahsyatnya Kekuatan Masjid"
Oleh : Drs. H. R. Maulany, S.H
*) Ketua Umum Pemimpin Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Barat.

17 May 2018

Keutamaan Dan Kedudukan Masjid

Keutamaan Dan Kedudukan Masjid

Masjid adalah bangunan yang diutamakan oleh Allah SWT sesuai dengan Firman-Nya dalam surah Al-Zain ayat 18 yang artinya “Dan sesungguhnya masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya selain menyembah Allah”. Selanjutnya dalam firman Allah SWT lainnya yakni dalam surah An-Nuur ayat 36 yang artinya “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang”.

Tiga tujuan utama masjid

Sedangkan kedudukan masjid dalam rangkaian sejarah yang panjang, bukanlah sebuah bangunan fisik lambang tempat peribadatan umat Islam semata, melainkan memiliki makna yang luas, paling tidak terdapat tiga tujuan utama, yaitu:

Keutamaan Dan Kedudukan Masjid
Keutamaan Dan Kedudukan Masjid
1. Berkaitan dengan aspek individual;
Terciptanya umat yang beriman dan bertakwa sesuai dengan firman Allah SWAT dalam Al-Qur’an surah Al-Hujarat ayat 15 dan Al-Maidah ayat 13.

2. Berkaitan dengan aspek sosial kemasyarakatan;
Membentuk umat yang siap menjalankan kehidupan sosial dalam berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi dalam berbangsa dan bernegara sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ar-Radd ayat 11, Al-Ahzab ayat 23, dan Al-Ahkaf  ayat 23.

3. Berkaitan dengan fisik;
Bangunannya sebagai pembuktian ketauhidan dan kekokohan jalinan sosial kontruktif dan produktif yang terkait erat dengan lingkungan sekitarnya yang berkesinambungan dalam pemenuhan kebutuhan hidup bersifat duniawi dan ukhrawi, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 18 dan 105 (Drs. H. Lukman Hakim, Pemberdayaan Masjid di Masa Depan)
Baca juga : Masjid dalam perjalanan sejarah Islam
Masjid dalam pandangan Islam merupakan tempat yang paling utama di muka bumi karena disana umat Muslim bisa menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa. Masjid selalu dijadikan institusi paling penting untuk pembinaan umat Islam. Di masjid pula, rasa kesatuan dan persatuan umat dapat ditumbuhkan sehingga semua masyarakat bertemu dalam  derajat yang sama. Sesungguhnya Allah tidak memandang tingkatan manusia. Bagi Allah yang paling terhormat diantara mereka adalah yang paling bertakwa.

Sumber :
Buku "Dahsyatnya Kekuatan Masjid"
Oleh : Drs. H. R. Maulany, S.H
*) Ketua Umum Pemimpin Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Barat.

Masjid Dalam Perjalanan Sejarah Islam

Masjid Dalam Perjalanan Sejarah Islam

Awal sejarah masjid telah tercatat dalam sejarah bahwa masjid yang kali pertama dibangun adalah Masjidil Haram yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS beserta puteranya Nabi Ismail AS, sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 127 yang artinya:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar bangunan Baitullah bersama Ismail seraya berdoa, “Ya Tuhan kami terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.
Selanjutnya 40 Tahun kemudian, masjid kedua yang dibangun adalah Masjidil Aqsha di Palestina yang didirikan oleh Nabi Yakub AS, yaitu cucu dari Nabi Ibrahim.

Sebagai masjid pertama, Masjidil Haram memiliki keutamaan dibandingkan masjid-masjid yang lain, yakni:
  • Masjidil Haram berada di tanah haram (suci)
  • Setelah tahun ke-8 Hijriyah, orang kafir dan musyrik tidak diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram
  • Menjadi tempat Rasulullah SAW memulai perjalanan Isra dan Mi’raj nya
  • Shalat di Masjidil Haram mendapatkan pahala 100.000 kali daripada shalat di masjid yang lain.

Masjid Dalam Perjalanan Sejarah Islam
Masjidil Haram

Fungsi Masjid di Masa Rasulallah SAW

Masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW bernama Masjid Quba yang terletak di Desa Quba. Jaraknya lebih kurang 5 km dari Kota Madinah. Pada saat itu, Rasulullah SAW hendak hijrah ke Kota Madinah, dipertengahan jalan Beliau singgah di Desa Quba selama empat hari dan menempati rumah Kulsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf. Di tanah miliknya pulalah, Nabi SAW mendirikan Masjid Quba. Untuk peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri kemudian diteruskan oleh para Sahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan selanjutnya dikerjakan oleh para Sahabat Muhajirin dan Anshar hingga selesai. Bahkan penentuan petunjuk arah kiblatnya, dibantu oleh Malaikat Jibril. Di masjid inilah diajarkan shalat berjamaah secara terang-terangan.

Setelah itu Rasulallah SAW melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Kota Madinah, Kaum Anshar telah menyambutnya dengan hangat dan penuh suka cita. Mereka saling menawarkan rumah untuk tempat beristirahat. Namun, Nabi SAW menjawab dengan bijaksana “Biarkanlah unta ini berjalan karena ia diperintah Allah”. Hingga akhirnya unta berhenti di tanah milik kedua anak yatim bernama Sahal dan Suhai. Sementara Beliau tinggal di rumah Abu Ayub al-Ansari.

Disana, Rasulallah SAW tinggal hingga berbulan-bulan. Beliau bersama para sahabat dan masyarakat sekitar membangun sebuah Masjid yang diberi nama Masjid Nabawi. Lahan tanah masjid tersebut dibeli oleh Abu Bakar as Siddiq ra dari kedua anak yatim tersebut yaitu Sahal dan Suhai. Sedangkan sebagiannya lagi milik As’ad bin Zurrah yang diserahkan sebagai wakaf.

Pembangunan masjid tersebut dilaksanakan bergotong royong dengan semangat kebersamaan seluruh masyarakat Madinah hingga selesai. Pagarnya dibuat dari batu tanah setinggi 2 m, tiang-tiangnya dari batang kurma, atapnya dari pelepah kurma dan halamannya ditutup dengan batu-batu kecil dengan kiblatnya menghadap ke Baitul Makdist karena ketika itu perintah Allah untuk menghadap Ka’bah belum turun.

Masjid inilah yang merupakan masjid pertama yang difungsikan Nabi SAW dalam melaksanakan ibadah ritual (mahdah) dan ibadah sosial kemasyarakatan (muammallah). Sehingga masjid tersebut menjadi pusat kegiatan dalam memberdayakan kehidupan umat dalam membangun peradaban yang maju bagi kesejahteraan masyarakat.
Masjid yang terkenal selanjutnya adalah Masjid Qiblataen. Masjid tersebut pada awal mulanya dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah. Pada permulaan Islam, umat Muslim melaksanakan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Makdist, Yerusalem di Palestina. Namun, peristiwa terkenalnya Masjid Qiblataen ini adalah pada saat tahun ke-2 Hijriyah tepatnya Hari Senin Bulan Rajab disaat Rasulallah sedang melaksanakan shalat Dzuhur, tiba-tiba turunlah wahyu berupa surah Al-Baqarah ayat 144. Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulallah SAW menghadap ke arah Masjidil Aqsha, tetapi setelah turun ayat tersebut Beliau menghentikan sementara kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblataen yang berarti masjid berkiblat dua.

Sumber :
Buku "Dahsyatnya Kekuatan Masjid"
Oleh : Drs. H. R. Maulany, S.H
*) Ketua Umum Pemimpin Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Barat.

16 May 2018

Penjelasan Awal dan Akhir Ramadhan 1439 H / 2018 M

Penjelasan Awal dan Akhir Ramadhan 1439 H

Berdasarkan surat edaran dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama "Lembaga Falakiyah" Provinsi Jawa Barat No. 07-LFNUJABAR-05/18 yang disampaikan kepada Pengurus PWNU Jabar, Lembaga dan Badan Otonomi PWNU Jabar, Seluruh Warga Nahdliyyin serta Kaum Muslimin Perihal Penjelasan Awal dan Akhir Ramadhan 1439 H. 

Maka sehubungan menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1439 H, dipandang perlu Falakiyah PWNU Jabar untuk memberikan penjelasan kepada Warga NU khususnya dan kepada ummat Islam Umumnya mengenai awal dan akhir ramadhan 1439 H, dari sisi ilmu falak. Hal ini agar mendapat perkiraan kapan terjadinya awal dan akhir bulan ramadhan 1439 H tahun ini.

Atas dasar tersebut berdasarkan hisab (modern), dapat ditetapkan sebagai berikut:


A. Ijtimak Akhir Sya'ban dan Awal Ramadhan 
Ijtimak akhir bulan sya'ban 1439 H (hari ke 29), jatuh pada hari Selasa-Kliwan tanggal 15 Mei 2018 M. pukul 18:48 (ijtimak seteloh terbenam matahari). Pada saat itu secara astronomi, mustahil hilal dapat dilihat karena belum muncul.

Ramadhan 1439 H
Ramadhan Mubarak

B. Ijtimak Akhir Ramadhan dan Awal Syawal

Data Bulan 
Ijtimak akhir bulan ramadhan 1439 H (hari ke 29), jatuh pada hari Kamis-Kliwon tanggal 14 Juni 2018 M, pukul 02:43 (ijtimak sebelum terbenam matahari) Tinggi hilal mar'i diatas ufuk atau horizon 07° 42' 48" (imkanur rukyah/kemungkinon hilal dapat dilihat
Umur bulan (setelah ijtimak) 15 jam 02 menit 01 detik 
Azimut bulan 291° 49' 17" 
Lama hilal diatas ufuk 31 menit 44 detik 
Fraksi liluminasi hilal 7 detik busur 
Posisi kemiringan hilal 08 derajat 45 menit 54 detik telentang

Dalam ilmu astronomi disebut juga dengan konjungsi atau newmoon, yaitu pembatas antara bulan lama dan bulan baru. Syarat munculnya hilal (bulan sabit) sebagai pertanda awal bulan hijriyah harus didahului ljtimak sebelum matahari terbenam (waktu maghrib). 
Waktu magrib di bandung pukul 17:45 (sudah ditambah koreksi DPL Kota Bandung)

Data Matahari
Waktu maghrib jam 17:47 menit (sudah ditambah koreksi DPL Kota Bandung).
Tinggi matahari 00 derajat 09 menit 51 detik. 
Azimut matahari 293° 14' 25" 

Data lainnya 
Selisih bujur bulan matahari 08° 48' 12" 
Elongasi bulan matahari 09° 16' 19"

C. Metode Nahdlatul Ulama Dalam Menetapkan Awal Bulan Hljriyah
Dalam menetapkan awal bulan hijriyah, Nahdlatul ulama berpedoman kepada pengamatan hilal (rukyatul hilal) hal ini sesuai dengan Hadits Nabi; 
Awal dan akhiri puasa dengan hilal, jika tidak dapat dilihat genapkanlah bilangan bulan (sya'ban) menjadi 30 hari. 
Adapun hisab, bagi Nahdlatul Ulama hanyalah sebagai panduan didalam pengamatan hilal dan bukan pedoman didalam menetapkan awal bulan hijriyah.

D. Kesimpulan Penjelasan Awal dan Akhir Ramadhan 1439 H

Berdasarkan data hisab diatas ; 
Awal Bulan Ramadhan 1439 H, jatuh pada hari 
Kamis-Pahing tanggal 17 Mei 2018 M. 
Karena hilal tidak dapat dilihat (belum muncul) sehingga bulan sya'ban digenapkan menjadi 30 hari. Awal Bulan Syawal 1439 H, jatuh pada hari 
Jum'at-Legi tanggal 15 Juni 2018 M.
Karena ketinggian hilal pada saat terbenam matahari sangat mungkin untuk dilihat dari semua titik pengamatan di wilayah NKRI (mathla fi wilayat al hukmi

Berdasarkan hisab, hilal itu dapat diamati ataupun tidak, tetap dilakukan.rukyat pada hari ke 29. Nahdlatul Ulama dalam hal ini tidak dalam kapasitas menetapkan (itsbat) awal dan akhir bulan ramadhan, akan tetapi Pemerintahlah yang menetapkan sedangkan Nahdlatul Ulama hanya sebatas memberikan laporan (ikhbar) keberhasilan atau tidaknya rukyatul hilal. 

(Dikutip dari surat edaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama "Lembaga Falakiyah" Provinsi Jawa Barat). Untuk mengetahui lebih jelasnya surat edaran tersebut, silahkan klik tautan berikut "Penjelasan Awal dan Akhir Ramadhan 1439 H"

14 February 2018

Kewajiban Memakai Jilbab Bagi Wanita

Kewajiban Memakai Jilbab Bagi Wanita

Secara etimologi, Sebuah pakaian yang longgar yang menutup seluruh tubuh perempuan kecuali muka dan kedua telapak tangan disebut dengan Jilbab. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Khimar, dan dalam bahasa Inggris yaitu veil. Selain kata jilbab, pakaian tersebut juga dikenal dengan kerudung, hijab dan lain sebagaianya.

Seperti yang kita ketahui semua, pakaian adalah barang yang dikenakan pada tubuh kita seperti baju, celana dan sebagainya atau lebih dikenal juga dengan sebutan busana. Jadi, busana muslim artinya pakaian yang dikenakan oleh perempuan yang beragama islam. Berdasarkan makna tersebut, Busana muslim dapat juga diartikan sebagai pakaian wanita islam yang menutupi aurat yang diwajibkan oleh agama untuk menutupinya guna kemaslahatan dan kebaikan dari pada wanita itu sendiri serta pada masyarakat dimana ia berada.

Kewajiban Memakai Jilbab
foto (doc. Syahrie)
Menutup aurat sesungguhnya perintah Allah SWT. Yang dilakukan secara bertahap. Perintah menutup aurat bagi perempuan pada awalnya diperintahkan kepada para istri Nabi Muhammad SAW, agar tidak berbuat seperti kebanyakan perempuan pada saat itu (Q.S. Al-Ahzab/33:32-33), kemudian Allah memerintahkan kepada istri-istri Nabi Muhammad agar tidak berhadapan langsung dengan laki-laki yang bukan mahramnya (Q.S. Al-Ahzab/33:53).

Kemudian, karena istri-istri Nabi juga perlu keluar rumah untuk mencari kebutuhan rumah tangga, maka Allah memerintahkan mereka untuk menutup aurat apabila hendak keluar rumah (Q.S. Al-Ahzab/33:59). Pada ayat ini, Allah memerintahkan untuk memakai jilbab bukan hanya kepada istri-istri Nabi dan anak-anak perempuannya, tetapi juga kepada istri-istri orang yang beriman. Dengan demikian, menutup aurat atau berbusana muslim adalah wajib hukumnya bagi seluruh wanita yang beriman, karena sudah jelas disebutkan dalam firman Allah SWT.

11 February 2018

Harga Dari Sebuah Kejujuran

Harga dari sebuah kejujuran

Kisah menarik berikut mungkin dapat menginspirasi dan memotivasi kita agar selalu mempertahankan kejujuraan dalam segala kondisi. Simak kisahnya sebagai berikut!

Suatu ketika seoraang sahabat Rasulallah yang bernama Wasilah Ibn Iqsa berada dalam pasar ternak. Tiba-tiba beliau melihat seseorang yang sedang menawar seekor unta. Ketika beliau lengah, pembeli itu telah menuntun unta yang sudah dibelinya dengan harga 300 dirham.

Wasilah dengan segera mendekati pembeli tersebut sambil bertanya,
"Apakah unta yang engkau beli itu untuk disembelih atau sebagai tunggangan?".
Si pembeli menjawab, "Unta ini untuk dikendarai".
Lalu Wasilah memberikan nasihat bahwa unta tersebut tidak akan bertahan lama hidup karena di kaki unta tersebut terdapat lubang yang mengakibatkan cacat. Pembeli itu pun kemudian segera menemui kembali si penjual agar dapat mengurangi harga belinya menjadi 100 dirham.

Harga Sebuah Kejujuran

Si penjual merasa kesal kepada Wasilah sembari mengatakan "Semoga engkau dikasihani Allah, karena jual beliku telah engkau rusak".
Mendengar ucapan tersebut Wasilah menjawabnya, "Kami sudah berbai'at kepada Rasulallah untuk berlaku jujur kepada setiap muslim, sebagaimana Rasulallah bersabda "Tiada halal bagi siapa pun yang menjual barangnya kecuali dengan menjelaskan cacatnya, dan tiada halal bagi yang mengetahui hal itu kecuali menjelaskannya." (H.R. Hakim, Baihaqi dan Muslim dari Wasilah)

Seperti itulah nilai kejujuran, meskipun berisiko, namun tetap harus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Sangatlah mudah untuk diucapkan, tetapi susah untuk diterapkannya. Semoga dari kisah tersebut diatas dapat menjadikan pelajaran bagi kita betapa berharganya nilai dari sebuah kejujuran.

09 February 2018

Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu

Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu

Sebelum menjadi ulama besar yang sangat produktif dalam menghasilkan berbagai karya, Ibnu Hajar saat masih menuntut ilmu terkenal sebagai  seorang anak yang bodoh dan bebal. Beliau pernah merasa putus asa dan lari dari tempat ia belajar karena sangat tidak paham dengan ilmu yang diberikan gurunya.

Semakin ia diberi penjelasan, maka semakin ia dibuat kebingungan dan tidak mengerti maksudnya. Waktunya lebih banyak digunakan untuk menyedniri dan merenung dipinggir sungai. Pada saat merenung, mendadak beliau tersentak pada batu yang beliau duduki. Ternyata pada satu sisi dimana air itu menetes, terlihat ada lubang. Dari situ kemudian tumbuh lagi semangat beliau untuk serius belajar, karena belau berkeyakinan jika batu saja dapat berlubang karena tetesan air yang terus menerus, tentu hati manusia yang lunak pun akan tertembus pula oleh siraman ilmu pengetahuan yang terus dipelajarinya. Sejak saat itu semangatnya untuk belajar pun kembali tumbuh.

Ibnu Hajar Si Anak Batu

Akhirnya sejarah mencatat Ibnu Hajar Al-Asqalani, sebagai ulama yang hebat dan terkenal dengan keluasan ilmunya. Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian). 

Sesuai dengan namanya, Ibnu Hajar sendiri secara bahasa artinya "Anak Batu" karena erat kaitannya dengan legenda yang menyatakan bahwa kegemilangannya dalam ilmu pengetahuan berasal dari terinspirasinya beliau oleh sebuah batu yang dapat berlubang oleh tetesan air. Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al-Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

“Kisah Beliau diatas bisa menjadi motivasi bagi kita semua, bahwa sekeras apapun itu dan sesusah apapun itu jika kita benar-benar ikhlas dan tekun dalam belajar niscaya kita akan menuai kesuksesan. Jangan pernah menyerah atau putus asa, karena kegagalan itu hal yang biasa, tapi jika Anda berhasil bangkit dari kegagalan, itu baru luar biasa".

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ).

03 January 2018

Mengapa Umar bin Abdul Aziz Sering Memadamkan Lampu ?

Mengapa Umar bin Abdul Aziz Sering Memadamkan Lampu ?

Pada suatu malam, di ruang kerja di kantor Gubernur Hejaz, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tampak sibuk dengan pekerjaan ketatanegaraan. Tiba-tiba sang Khalifah dikejutkan suara ketukan agak keras di pintu.

"Siapa?" tanya khalifah
"Saya, Tuan. Pelayan Tuan"
jawab orang yang mengetuk pintu.
"Tunggu sebentar, Abid," jawabnya. Terdengar suara tiupan keras,
lalu khalifah pun membuka pintu. Kamar kerjanya tampak gelap gulita.

Rupanya sang khalifah telah memadamkan lampu.
"Silahkan masuk, Abid. Saya sedang sibuk malam ini,"
katanya singkat.
Sang pelayan tidak berani masuk, takut terantuk meja.
"Ini kopi kesukaan Tuanku," katanya.

Umar bin Abdul Aziz Sering Memadamkan Lampu ?

Dalam hati ia (Abid) bertanya-tanya, "Mengapa Tuan selalu memadamkan lampu ketika aku masuk? Akan kutanyakan kepada Permaisuri."
"Terima kasih, Abid. Letakkan saja di meja dekat pintu, nanti kuambil sendiri," ucap Umar bin Abdul Aziz.
"Baik, Tuan. Nyonya berpesan, makan malam sudah siap," kata sang pelayan.
"Katakan kepada Nyonya, setengah jam lagi aku selesai."
"Baik, Tuan."
Sang pelayan meninggalkan ruang khalifah yang gelap gulita. Tak terlihat apapun disana.

Kebiasaan sang khalifah yang berulang kali memadamkan lampu mengundang keingintahuan sang pelayan.
"Jangan-jangan Tuanku melakukan pekerjaan yang dilarang agama dan beliau mematikan lampu supaya orang lain tidak tahu," pikirnya.
Malam itu juga sang pelayan menanyakan kebiasaan aneh khalifah kepada permaisuri.
"Aku pun tidak tahu, Abid. Coba nanti kutanyakan," jawab permaisuri.
Seusai makan malam, permaisuri bertanya kepada suaminya,
"Suamiku, mengapa engkau selalu memadamkan lampu setiap kali Abid memasuki ruang kerja?"
"Oo.... Soal itu," kata khalifah sambil tersenyum,

Umar bin Abdul Aziz

"Istriku, kau 'kan tahu, minyak dari lampu dikamar kerja itu dibeli dengan uang negara. Karena pembicaraanku dengan Abid adalah urusan pribadi, sudah sepantasnya lampu itu kupadamkan."

"Pengaturan negara harus dimulai dari pengaturan keluarga. Jika kita masih mengambil uang negara, bagaimana kita bisa menghapus tindak korupsi? Aku harus bisa meyakinkan rakyat bahwa para pegawai negara tidak melakukan pungutan pajak yang berlebih," katanya.
"Agama islam memerintahkan kita berlaku adil terhadap sesama. Keadilan harus dimulai dari sini, diri sendiri. Hubungan ayah, ibu dan anak pun harus didasarkan pada keadilan. Ingatlah akan hal itu," ujarnya lagi.

"Benar, suamiku. Aku mengerti sekarang. Harta dan makanan haram bisa menjadi penghalang terkabulnya do'a kita," jawab permaisuri dengan wajah berseri.
"Rasulullah adalah orang yang sederhana. Sungguh, ia adalah pemimpin yang tidak pernah makan kenyang atau tidur nyenyak karena selalu memikirkan penderitaan rakyat," lanjut Umar bin Abdul Aziz.

Begitu bijak dan adilnya Umar bin Abdul Aziz ! Ia adalah keturunan khalifah Umar bin Khattab. Ayahnya, Abdul Aziz, menikah dengan Laila, cucu Umar bin Khattab. Pendidikan yang diterimanya dari para ulama besar di Madinah membuatnya menjadi khalifah berakhlak baik.

Dalam hal kejujuran, keadilan dan kesederhanaan, Umar bin Abdul Aziz benar-benar mewarisi sifat Umar bin Khattab. Kerinduan kaum Muslim akan Pemerintahan yang adil bisa terwujud berkat kepemimpinannya.

Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, walaupun berjalan hanya sekitar dua setengah tahun, patut diteladani. Terbukti bahwa pemimpin yang adil dan bijaksana seperti beliau bisa membawa rakyatnya menuju kesejahteraan.
Sebaliknya, pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri pasti mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan, sampai-sampai rakyatnya mengalami perpecahan.

Setiap hari kita mendengar ungkapan :
"Berantas korupsi, penjarakan koruptor!" 
korupsi sama dengan mencuri, tindakan memakan harta yang bukan hak kita. Allah sangat membenci tindakan tersebut, begitu juga dengan pelakunya. Nah, kita tentunya tidak mau dimurkai Allah, bukan?

Yuk, patuhi hukum Allah! Mari kita mulai dari diri sendiri.