Dahsyatnya Kekuatan Masjid

Keberadaan masjid merupakan simbol tumbuhnya semangat dan peradaban baru yang Islami. Para ulama ahli tarikh Islam setidaknya mencatat 13 fungsi masjid untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya masyarakat dan peradaban Islam. 

Dahsyatnya Kekuatan Masjid
Dahsyatnya Kekuatan Masjid
Masjid sebagai pusat Taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt, pusat untuk membangun ukhuwah dan persaudaraan, pusat untuk membangun kesamaan dan persamaan derajat, pusat untuk musyawarah dan pengambilan keputusan, pusat pendidikan, pengajaran dan pelatihan, pusat dakwah dan syiar Islam, tempat menyantuni musafir dan kaum dhuafa, simbol Islam dan umat Islam, pusat manajemen dan pengendalian umat, serta pusat pemberdayaan ekonomi umat. 

Peran masjid yang begitu lengkap dan terpadu tersebut, dapat kita pahami sebagai bidang-bidang strategis yang dilakukan Rasulullah saw dalam mengembangkan dan memberdayakan umatnya untuk mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan Al- Qur'an yaitu menjadi Khairu Ummah atau umat yang terbaik.

Kebangkitan umat Islam menuju peradaban Madinah yang maju pada peristiwa hijrah Nabi Saw berawal dari kekuatan masjid. Sementara, kemunduran umat Islam saat ini sangat dimungkinkan karena umat Islam terlalu menghiraukan kekuatan masjid sebagai aset yang sangat berpotensial. Kekuatan yang dimiliki masjid terdapat pada kekuatan historis, kekuatan spiritual, kekuatan fisik, dan fungsionalisasinya. 

Tantangan keberadaan masjid

Keberadaan masjid saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain keterbatasan pemahaman umat terhadap fungsi dan potensi masjid, lemahnya manajemen dan SDM intitusi masjid, serta terbatasnya kerja sama kemitraan dengan pemerintah dan berbagai pihak yang berkaitan dengan program pemberdayaan umat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun, apabila kekuatan masjid telah mampu mengatasinya melalui manajemen masjid pemberdayaan umat, insya Allah akan terwujud kekuatan masjid yang sungguh luar biasa yang mampu memberdayakan umat sebagai salah satu solusi dalam menyelesaikan permasalahan kemiskinan, keterbelakangan, dan kedangkalan iman

Keberadaan masjid yang mencapai 800.000 di Indonesia tampaknya belum memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan hajat hidup orang banyak. Itu artinya, jika masyarakat sekitar masih ada yang miskin, terbelakang, dan bodoh, berarti keberadaan masjid belum berfungsi secara maksimal. Sejatinya, masjid ada bukan karena fisiknya saja (riayah), melainkan idarah (organisasi) dan imarahnya (program) pun harus dirasakan hidup.

10 Fungsi masjid dimasa Umar bin Khattab

Fungsi dan potensi masjid saat ini telah mengalami kemunduran dibandingkan di zaman Nabi Saw dulu. Salah satu Sahabat Nabi Saw, Umar bin Khattab menjadikan Masjid Nabawi bukan hanya sebagai tempat sujud saja, melainkan sebagai pusat pemerintahan.

Bahkan karena semakin ramainya, Umar pun memperluas wilayahnya menjadi tempat perekonomian, di mana sistem perdagangan saat itu pun spontan melonjak naik. Menurut M. Quraish Shihab, beliau merangkum minimal ada 10 fungsi yang dimiliki Masjid Nabawi pada periode awal sejarah Islam kala itu, di antaranya: 
  1. Ibadah. 
  2. Pendidikan. 
  3. Santunan sosial. 
  4. Menawan Tahanan. 
  5. Pengobatan para korban perang. 
  6. Aula dan tempat menerima tamu. 
  7. Perdamaian dan pengadilan sengketa. 
  8. Pusat penerangan dan pembelaan Islam. 
  9. Latihan militer dan persiapan peralatannya. 
  10. Komunikasi dan konsultasi soal ekonomi, sosial, dan budaya. 
Sebaliknya, apa yang kita lihat saat ini justru orang bukan berlomba-lomba membangun masjid dan menjadikannya sebagai Islamic Center layaknya yang dilakukan Umar bin Khattab melainkan lebih senang membangun gedung-gedung pencakar langit dan mall-mall yang hampir di setiap jalan menghiasi kota dan tempat-tempat yang paling strategis. 

Bahkan, kini keberadaannya sudah mulai merangsek ke pelosok-pelosok desa. Tapi sayang, kehadirannya pun tidak menghasilkan apapun bagi penduduk sekitar meskipun omset mereka terkadang bisa menyentuh angka miliyaran per bulan.

Sungguh ironis memang dikala umat Islam kini membutuhkan masjid sebagai tempat berlindung dari keduniawian yang semakin tak karuan, seperti naiknya tingkat kemiskinan, naiknya tingkat kebodohan, dan merosotnya nilai keimanan dan ketakwaan seseorang, justru dibuat semakin terbelenggu tanpa arah.

Sejatinya, masjid yang kini dibangun tidak harus mengutamakan aspek keindahannya saja, di mana mereka terus-menerus berbenah untuk berlomba-lomba menjadi masjid yang paling indah, namun melupakan aspek "kehidupan" di lingkungan sekitarnya.

Misalnya, merenovasi interior, membangun menara setinggi-tingginya, atau menghias pagar hingga satu bulan sekali namun melupakan masyarakat sekitar masjid yang kelaparan dan terbengkalai. Seperti itukah yang dinamakan masjid? Atau apakah masjid hanya dijadikan sebagai menara gading semata?

bm

Blogger amatir yang suka berbagi cerita, informasi dan ilmu pengetahuan melalui tulisan di blog.

Post a Comment

Mohon berikan komentar dengan bahasa yang santun sesuai dengan topik yang dibahas, tidak memasang link hidup, dan tidak meninggalkan spam!.

Terimakasih banyak atas perhatiannya.

avatar
Admin Kang Syahri Online
Selamat datang di Kang Syahri
Silakan kirimkan pesan untuk bekerjasama dengan kami!