Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

17 May 2018

Masjid Dalam Perjalanan Sejarah Islam

Masjid Dalam Perjalanan Sejarah Islam

Awal sejarah masjid telah tercatat dalam sejarah bahwa masjid yang kali pertama dibangun adalah Masjidil Haram yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS beserta puteranya Nabi Ismail AS, sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 127 yang artinya:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar bangunan Baitullah bersama Ismail seraya berdoa, “Ya Tuhan kami terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.
Selanjutnya 40 Tahun kemudian, masjid kedua yang dibangun adalah Masjidil Aqsha di Palestina yang didirikan oleh Nabi Yakub AS, yaitu cucu dari Nabi Ibrahim.

Sebagai masjid pertama, Masjidil Haram memiliki keutamaan dibandingkan masjid-masjid yang lain, yakni:
  • Masjidil Haram berada di tanah haram (suci)
  • Setelah tahun ke-8 Hijriyah, orang kafir dan musyrik tidak diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram
  • Menjadi tempat Rasulullah SAW memulai perjalanan Isra dan Mi’raj nya
  • Shalat di Masjidil Haram mendapatkan pahala 100.000 kali daripada shalat di masjid yang lain.

Masjid Dalam Perjalanan Sejarah Islam
Masjidil Haram

Fungsi Masjid di Masa Rasulallah SAW

Masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW bernama Masjid Quba yang terletak di Desa Quba. Jaraknya lebih kurang 5 km dari Kota Madinah. Pada saat itu, Rasulullah SAW hendak hijrah ke Kota Madinah, dipertengahan jalan Beliau singgah di Desa Quba selama empat hari dan menempati rumah Kulsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf. Di tanah miliknya pulalah, Nabi SAW mendirikan Masjid Quba. Untuk peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri kemudian diteruskan oleh para Sahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan selanjutnya dikerjakan oleh para Sahabat Muhajirin dan Anshar hingga selesai. Bahkan penentuan petunjuk arah kiblatnya, dibantu oleh Malaikat Jibril. Di masjid inilah diajarkan shalat berjamaah secara terang-terangan.

Setelah itu Rasulallah SAW melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Kota Madinah, Kaum Anshar telah menyambutnya dengan hangat dan penuh suka cita. Mereka saling menawarkan rumah untuk tempat beristirahat. Namun, Nabi SAW menjawab dengan bijaksana “Biarkanlah unta ini berjalan karena ia diperintah Allah”. Hingga akhirnya unta berhenti di tanah milik kedua anak yatim bernama Sahal dan Suhai. Sementara Beliau tinggal di rumah Abu Ayub al-Ansari.

Disana, Rasulallah SAW tinggal hingga berbulan-bulan. Beliau bersama para sahabat dan masyarakat sekitar membangun sebuah Masjid yang diberi nama Masjid Nabawi. Lahan tanah masjid tersebut dibeli oleh Abu Bakar as Siddiq ra dari kedua anak yatim tersebut yaitu Sahal dan Suhai. Sedangkan sebagiannya lagi milik As’ad bin Zurrah yang diserahkan sebagai wakaf.

Pembangunan masjid tersebut dilaksanakan bergotong royong dengan semangat kebersamaan seluruh masyarakat Madinah hingga selesai. Pagarnya dibuat dari batu tanah setinggi 2 m, tiang-tiangnya dari batang kurma, atapnya dari pelepah kurma dan halamannya ditutup dengan batu-batu kecil dengan kiblatnya menghadap ke Baitul Makdist karena ketika itu perintah Allah untuk menghadap Ka’bah belum turun.

Masjid inilah yang merupakan masjid pertama yang difungsikan Nabi SAW dalam melaksanakan ibadah ritual (mahdah) dan ibadah sosial kemasyarakatan (muammallah). Sehingga masjid tersebut menjadi pusat kegiatan dalam memberdayakan kehidupan umat dalam membangun peradaban yang maju bagi kesejahteraan masyarakat.
Masjid yang terkenal selanjutnya adalah Masjid Qiblataen. Masjid tersebut pada awal mulanya dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah. Pada permulaan Islam, umat Muslim melaksanakan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Makdist, Yerusalem di Palestina. Namun, peristiwa terkenalnya Masjid Qiblataen ini adalah pada saat tahun ke-2 Hijriyah tepatnya Hari Senin Bulan Rajab disaat Rasulallah sedang melaksanakan shalat Dzuhur, tiba-tiba turunlah wahyu berupa surah Al-Baqarah ayat 144. Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulallah SAW menghadap ke arah Masjidil Aqsha, tetapi setelah turun ayat tersebut Beliau menghentikan sementara kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblataen yang berarti masjid berkiblat dua.

Sumber :
Buku "Dahsyatnya Kekuatan Masjid"
Oleh : Drs. H. R. Maulany, S.H
*) Ketua Umum Pemimpin Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Barat.

19 March 2018

Sejarah Balap Sepeda di Indonesia

Sekilas Sejarah Balap Sepeda di Indonesia

Bukan hal yang asing lagi bagi kita untuk mengenal benda yang namanya "Sepeda". Alat transportasi ini ada sejak jaman dulu hingga sekarang perkembanganya semakin maju dan bahkan dari berbagai pabrik-pabrik di dunia yang memproduksi sepeda ini semakin banyak modifikasi-modifikasi yang semakin keren. tapi tahukah anda sebenarnya sepeda bahkan sejarah balap sepeda di Indonesia, jauh sebelum Perang Dunia II.

Meskipun masih dibiayai oleh kaum pengusaha seperti perusahaan Tropical, Triumph, Hima, Mansonia dan lain-lain. Mereka dapat dikategorikan sebagai pembalap sepeda profesional. Padahal waktu itu masih jaman penjajahan Belanda. Memang perkembangan olahraga Balap Sepeda cukup menguntungkan.

Pada masa itu, khususnya kota Semarang menjadi pusat kegiatan Balap Sepeda. Oleh arsitek Ooiman dan Van Leuwen didirikanlah sebuah velodrome. Velodromen dalam bahasa Belanda disebut Wielerband, atau “Pias” dalam bahasa Indonesia. Beda halnya pada jaman Jepang kegiatan Balap Sepeda dapat dikatakan terhenti. Baru ketika kemerdekaan diproklamasikan, para penggemar Balap Sepeda kembali mencoba mempopulerkan. Sebagai contoh terbukti ketika PON II/1951 berlangusng di Jakarta, Balap Sepeda termasuk cabang olahraga yang diperlombakan.


Ikatan Sport Sepeda Indonesia ISSI baru didirikan tepat pada hari peringatan Kebangkitan Nasional yaitu 20 Mei 1956di Semarang. Sebelum itu di tahun 1951.

Beberapa daerah sudah membentuk perkumpulan-perkumpulan Balap Sepeda, seperti :
- ISSS : Ikatan Sport Sepeda Semarang
- PBSD : Persatuan Balap Sepeda Djakarta
- ISSJ : Ikatan Sport Sepeda Jogjakarta
- IPSS : Ikatan Pembalap Sepeda Solo
- PSBS : Perkumpulan Sepeda Balap Surabaya
- PBMS : Perkumpulan Balap Sepeda Medan dan Sekitarnya
- Super Jet : Perkumpulan Balap Sepeda dari Bandung
- PSBM : Perkumpulan Sepeda Balap Manado.

Jawa Tengah yang sejak semula memang menjadi pusat kegiatan olahraga Balap Sepeda di tanah air, terutama di kota Semarang dengan Ikatan Sport Sepeda Indonesia. Hal ini bertitik tolak atas keinginan untuk mempersatukan perkumpulan yang ada di seluruh Indonesia, agar pembinaan Balap Sepeda secara nasional dapat lebih mudah dilakukan.

Gerakan ini didahului dengan lahirnya ROSBADT( Rombongan Sepeda Balap Djawa Tengah) Pada tanggal 20 Mei 1956, selama empat hari penuh diadakan sidang yang dihadiri oleh organisasi-organisasi Balap Sepeda dari Semarang, Jakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Medan dan Manado yang menetapkan Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) merupakan organisasi pusat dari seluruh perkumpulan Balap Sepeda di Indonesia, yang berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta Amatirisme.

Tokok-tokoh yang pernah menjabat sebagiai ketua umum PB. ISSI

Tercatat dalam data, sebagai Ketua Umum PB. ISSI adalah sebagai berikut :
S. Soeroso, Ketua Umum 1 dan pendiri PB. ISSI dari tahun 1956 – 1969.
Periode I – 1956 – 1958 – Letkol S Soeroso.
Periode II – 1958 – 1960 – Letkol S Soeroso.
Periode III – 1960 – 1963 – Letkol S Soeroso.
Periode IV – 1963 – 1967 – Letkol S Soeroso.
Periode V – 1967 – 1969 – Letkol S Soeroso.
Periode VI – 1969 – 1971 – Komodor (L) R. Soehardjo.
Periode VII – 1971 – 1973 – Brig Jend (Purn) Drs. Gatot Suwagio.
Periode VIII – 1973 – 1977 – Brig Jend (Purn) Drs. Gatot Suwagio.
Periode IX – 1978 – 1982 – Brig Jend (Purn) Drs. Gatot Suwagio.
Periode X – 1983 – 1987 – Harry Sapto.
Periode XI – 1987 – 1991 – Harry Sapto.
Periode XII – 1991 – 1996 – Harry Sapto.
Periode XIII – 1996 – 2003 – Harry Sapto.
Periode XIV – 2003 – 2007 – Harry Sapto.
Periode XV – 2008 – 2012 – Phanny Tanjung.

Itulah sedikit tentang sejarah balap sepeda di Indonesia, semoga anda lebih mengerti dan faham tentang sejarah sepeda di Indonesia.

Almarhum Presiden pertama kita "BUNG KARNO" pernah mengatakan bahwa jika kita ingin dihargai oleh bangsa lain maka janganlah sekali-kali melupakan sejarah atau yang lebih dikenal dengan sebutan "JAS MERAH".

Biografi Sang Jendral Kharismatik "Jendral Sudirman"

Biografi Sang Jendral Kharismatik "Jendral Sudirman"

Jendral Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.

Biografi Jendral Sudirman
Jendral Besar Soedirman
Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Beliau memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. 

Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Bio Data Lengkap Tentang Jendral Besar Soedirman

Nama                                      : Jenderal Sudirman
Lahir                                        : Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Meninggal                               : Magelang, 29 Januari 1950
Agama                                    : Islam
Pendidikan Fomal                   : - Sekolah Taman Siswa
 - HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
Pendidikan Tentara                 : Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan          : Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
Pengalaman Organisasi         : Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer                     : - Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
 - Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
 - Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan             : Pahlawan Pembela Kemerdekaan
Meniggal                                 : Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan                          : Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Sejarah Permainan Sepak Bola

Sejarah Permainan Sepak Bola

Permainan sepak bola memang sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Begitu banyak kebudayaan kuno yang memainkan olahraga yang mirip sepak bola seperti sekarang ini. Oleh sebab itu, tidak diketahui dengan pasti kapan dan dimana permainan bola pertama kali dimulai.

Sejarah mencatat, pada tahun 200 SM bangsa China memiliki permainan yang mamakai bola kulit. Pada zaman Yunani Kuno pun muncul permainan yang serupa. Konon, permainan itu berkembang pada zaman Romawi Kuno dengan nama harpastum. 



Permainan harpastum disebut-sebut sebagai cikal bakal olahraga sepak bola modern. Permainan harpastum ditandai garis-garis batas. Tujuna permainan ini adalah untuk menempatkan bola ke wilayah tim lawan.

Permainan ini terus berkembang di negara Inggris. Italia dan Amerika. Permainan sepak bola ini semakin popular dan banyak penggemarnya. Perkembangan permainan  ini akhirnya menuntut berdirinya FIFA (Federation International de Football Association) atau Asosiasi Sepak Bola Internasional. FIFA memperbiki system persepakbolaan mulai dari seragam, wasit, tendangan pinati sampai masalah profesionalisme.

Pada tahun 1908, olahraga sepak bola mulai masuk dalam olahraga yang dipertandingkan pada Olimpiade. Adapun Piala Dunia baru dimulai pada tahun 1930 yang diselenggarakan di Uruguay. Tim Indonesia pernah masuk pertandingan Piala Dunia ke-3 yang diadakan di Prancis tahun 1938 yang mewakili Asia Pasifik sebagai tim Dutch East Indies

Belajar Dari Keteladanan Bung Hatta

Belajar Dari Keteladanan Bung Hatta

Dalam perbendaharaan sejarah Indonesia, Hatta mungkin lebih banyak dikenal sebagai pahlawan proklamator, pendiri Negara, sekaligus negarawan sejati. Hatta juga termasyhur sebagai sosok manusia yang teguh memegang prinsip, disiplin terhadap waktu, sangat mencintai buku dan ilmu pengetahuan serta berjiwa kerakyatan.

Hatta adalah pejuang kemerdekaan yang gigih dengan cara menolak segala bentuk kerja sama dengan pihak penjajah Belanda. Ia mulai berjuang secara politik seperti itu sejak sekolah di Belanda dan ketika beliau menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia. Beliau sering mendengungkan perjuangan kemerdekaan Indonesia di berbagai pertemuan internasional. Di negeri penjajah itu pula cucu Syekh Batu Hampar itu pernah ditangkap, dipenjarakan, lalu diadili untuk kemudian dibebaskan.

bung hatta
(Sang Tokoh Proklamator)
Ketika kembali ke Indonesia, Hatta pun aktif mendengungkan kemerdekaan Indonesia. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerja sama dengan penjajah. Karena itulah, Hatta ditangkap dan sempat dibuang ke Digul (Papua). Disana Bung Hatta menolak bekerja sebagai kuli untuk mendapatkan upah 40 sen sehari. Beliau lebih banyak mengisi hari-harinya dengan membaca dan menulis. Saat dibuang di Digul tersebut beliau membawa serta enam belas koleksi bukunya. Oleh karena itu beliau memiliki bahan untuk menulis. Kegiatan sehari-harinya diatur ketat sampai jadwal menerima tamu pun ditetapkan.

Bung Hatta sang tokoh proklamator

Bung Hatta selanjutnya menjadi tokoh perjuangan nasional. Beliau adalah orang yang mendampingi Bung Karno dalam membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945. Sejak itu beliau menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Karena jasanya, Bung Hatta yang memiliki nama lengkap Mohammad Hatta ini memperoleh penghargaan Bintang RI Kelas I.

Bung Hatta adalah tokoh yang patut diteladani. Beliau terkenal sebagai tokoh yang sangat disiplin dengan waktu. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang jujur dan juga sangat hemat. Ketika beliau wafat, seluruh rakyat Indonesia menangisi kepergian seorang teladan bangsa ini. Tidaklah salah jika kita meniru keteladanan beliau.